Dalam mewariskan kawruh Kejawen atau falsafah Jawa dari generasi ke generasi selanjutnya pada umumnya tidak menggunakan bahasa yang rasional dan mudah dipahami. Dengan demikian, sebagai akibatnya, kawruh Kejawen masa kini banyak yang tidak dimengerti bahkan oleh orang Jawa sendiri. Bahkan kemudian banyak yang menganggap kawruh Kejawen sebagai klenik. Anggapan Kejawen sebagai tahayul atau klenik tersebut sudah pasti tidak nyaman dirasakan bagi kebanyakan orang Jawa. Karena itu, diperlukan penjelasan-penjelasan yang masuk akal tentang Kejawen untuk menepis anggapan minor tersebut.Untuk itu, sangat diperlukan sebuah usaha untuk menjelasan sekaligus upaya menggugah kesadaran Jawa agar kembali memiliki kedaulatan spiritual penuh supaya kembali berjaya dalam peradaban umat manusia. Saatnya Jawa menyumbangkan cita-cita peradaban umat manusia yang ayem tentrem kerta raharja.
Jelas bahwa kawruh Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa yang merupakan sebuah kristalisasi pengalaman hidup orang Jawa sejak zaman prasejarah hingga zaman globalisasi saat ini. Sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta di Pulau Jawa. Sudah barang tentu ditambah hasil interaksi dengan falsafah dan kebudayaan bangsa-bangsa lain yang berdatangan ke Jawa sejak ratusan bahkan tahun lalu.