Tampilkan postingan dengan label Falasafah Kejawen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Falasafah Kejawen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2011

Kawruh Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa

Dalam mewariskan kawruh Kejawen atau falsafah Jawa dari generasi ke generasi selanjutnya pada umumnya tidak menggunakan bahasa yang rasional dan mudah dipahami. Dengan demikian, sebagai akibatnya, kawruh Kejawen masa kini banyak yang tidak dimengerti bahkan  oleh orang Jawa sendiri. Bahkan kemudian banyak yang menganggap kawruh Kejawen sebagai klenik. Anggapan Kejawen sebagai tahayul atau klenik tersebut sudah pasti tidak nyaman dirasakan bagi kebanyakan orang Jawa. Karena itu, diperlukan penjelasan-penjelasan yang masuk akal tentang Kejawen untuk menepis anggapan minor tersebut.

Untuk itu, sangat diperlukan sebuah usaha untuk menjelasan sekaligus upaya menggugah kesadaran Jawa agar kembali memiliki kedaulatan spiritual penuh supaya kembali berjaya dalam peradaban umat manusia. Saatnya Jawa menyumbangkan cita-cita peradaban umat manusia yang ayem tentrem kerta raharja.

Jelas bahwa kawruh Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa yang merupakan sebuah kristalisasi pengalaman hidup orang Jawa sejak zaman prasejarah hingga zaman globalisasi saat ini. Sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta di Pulau Jawa. Sudah barang tentu ditambah hasil interaksi dengan falsafah dan kebudayaan bangsa-bangsa lain yang berdatangan ke Jawa sejak ratusan bahkan tahun lalu.

Minggu, 17 Juli 2011

Falsafah Jawa, Kejawen dan Islam

JAWA dan kejawen seolah tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga di bungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa. Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya Jawa melalui pertunjukan wayang kulit, senandung lagu-lagu jawa , ular-ular ( putuah yang berupa filsafat), cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan khususnya di Kerjaan Mataram (Yogyakarta/Solo).